6 Maret 2026 7:18 am
.
4 menit membaca
AXIALNEWS.id | Belakangan ini media sosial dipenuhi berbagai tips bertahan hidup: menu makan sehari di bawah sepuluh ribu rupiah, cara mengurangi tagihan listrik, hingga trik mengubah kamar kos sempit menjadi terlihat estetis.
Konten semacam ini sering diberi label inspiratif, hemat, kreatif, sederhana, dan bijak secara finansial. Banyak orang menontonnya, membagikannya, bahkan mencoba mempraktikkannya karena terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, satu pertanyaan jarang muncul: mengapa konten bertahan hidup bisa menjadi hiburan massal?
Selama ini konten gaya hidup biasanya berisi aspirasi—tentang traveling, kuliner, karier, atau peningkatan kualitas hidup. Kini yang semakin populer justru strategi menurunkan standar hidup. Fokusnya bukan lagi bagaimana hidup lebih baik, melainkan bagaimana hidup tetap mungkin dijalani. Perubahan ini terjadi perlahan dan nyaris tanpa kita sadari.
Kita memuji orang yang mampu makan murah setiap hari sebagai pribadi yang disiplin. Kita menyebut mereka yang bekerja dua atau tiga pekerjaan sebagai sosok pekerja keras. Kemampuan bertahan dianggap sebagai prestasi personal, padahal sering kali itu adalah respons terhadap tekanan ekonomi yang meningkat, bukan sekadar pilihan hidup.
Fenomena ini juga mengubah cara kita memandang kemiskinan. Dulu, kondisi sulit dipandang sebagai persoalan bersama yang perlu diperbaiki. Kini, ia sering dianggap sebagai masalah individu yang harus diatasi dengan kreativitas pribadi. Ketika seseorang mengalami kesulitan ekonomi, yang kerap muncul adalah anggapan bahwa ia belum cukup pintar mengatur uang atau belum cukup bekerja keras.
Baca Juga Awal Rp 500 Ribu, Kini Insentif Guru PAUD Langkat Naik Jadi Rp 1,2 Juta Per Tahun
Di sinilah konten hemat berperan lebih dari sekadar hiburan. Ia menenangkan, memberi rasa kontrol, sekaligus menormalkan keadaan. Ketika harga-harga naik, kita tidak lagi bertanya mengapa daya beli melemah. Sebaliknya, kita sibuk mencari cara untuk menyesuaikan diri: mengganti lauk dengan yang lebih murah, mengurangi porsi, atau memperpanjang usia barang yang dimiliki. Adaptasi menjadi kebanggaan baru.
Tidak ada yang salah dengan hidup hemat. Mengatur keuangan memang merupakan keterampilan penting. Masalah muncul ketika penghematan berubah dari pilihan sadar menjadi kewajiban yang tidak terasa. Ketika bertahan hidup dipromosikan sebagai gaya hidup ideal, kita perlahan berhenti menyadari bahwa standar hidup sebenarnya sedang menurun.
Generasi muda sering dipuji sebagai generasi yang tangguh karena mampu bertahan dalam situasi sulit. Mereka kreatif mencari penghasilan tambahan, membuka usaha kecil, atau mengambil pekerjaan sambilan. Namun, pujian itu kerap menutupi kenyataan bahwa banyak dari mereka bukan sedang mengejar kemewahan, melainkan sekadar mencari stabilitas dasar.
Dulu, pekerjaan tetap dianggap mampu memberi kepastian hidup. Kini, bekerja penuh waktu pun belum tentu cukup. Dari situ lahirlah budaya side hustle—pekerjaan tambahan yang perlahan berubah dari pilihan menjadi norma. Produktivitas meningkat, tetapi rasa aman justru semakin berkurang.
Baca Juga Pemko Medan Buka Pendaftaran Jukir Berlangganan, Gaji Rp 2,5 Juta Per Bulan
Ironisnya, kondisi ini sering dibungkus dengan narasi kebebasan: bebas bekerja dari mana saja, bebas mengatur waktu sendiri. Padahal bagi sebagian orang, hal tersebut hanyalah bentuk lain dari ketidakpastian ekonomi.
Konten hemat juga berfungsi sebagai mekanisme psikologis kolektif. Ia membantu kita menerima keadaan tanpa merasa kalah. Dengan menamai keterpaksaan sebagai kreativitas, kita tetap merasa berdaya. Ketika pengalaman itu dibagikan di media sosial, muncul pula validasi bahwa banyak orang menghadapi situasi yang sama.
Namun ada risiko jangka panjang yang perlu disadari. Ketika masyarakat terlalu terbiasa beradaptasi, masalah struktural bisa tertutup dari pandangan. Jika semua orang dianggap mampu “mengakali” situasi, maka situasi itu terlihat normal. Kesulitan berubah menjadi kebiasaan, dan sesuatu yang dianggap biasa jarang dipandang sebagai masalah yang perlu diperbaiki.
Ekonomi yang sehat seharusnya membuat stabilitas hidup terasa biasa, bukan istimewa. Jika memiliki kehidupan yang stabil terasa seperti pencapaian besar, mungkin ada sesuatu yang sedang bergeser—bukan hanya dalam angka ekonomi, tetapi juga dalam harapan kolektif kita tentang apa yang layak disebut kehidupan yang wajar.
Baca Juga Aktivis Mahasiswa Hukum Minta BK DPRD Sumut Tindak Oknum Dewan Pelaku Pelanggaran
Konten hemat tentu tetap berguna, bahkan penting, untuk membantu banyak orang melewati hari-hari sulit. Namun kita juga perlu menyadari makna di balik popularitasnya. Ia bukan sekadar tren digital, melainkan cermin kondisi sosial: menunjukkan kreativitas masyarakat sekaligus tekanan yang mereka rasakan. Mungkin kita tidak sedang belajar hidup sederhana.
Mungkin kita sedang belajar menerima ruang hidup yang semakin menyempit—sambil berusaha tetap optimistis.
Selama konten bertahan hidup terasa lebih relevan daripada konten tentang peningkatan kualitas hidup, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya “bagaimana cara berhemat?”,melainkan “mengapa kita harus berhemat sejauh ini?”
Penulis: Siti Rosdianti, Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia.
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.